Selasa, 16 Februari 2010

CALO

keberadaan calo bukan saja monopoli terminal bis antar kota dan stasiun kereta, namun hampir setiap sektor tak lepas dari percaloan, istilah "calo" terkesan negatif karena bila mendengar istilah tersebut terbayang calo tanah yang selalu bikin keruh permasalahan jual beli tanah atau ganti rugi tanah yang tergusur oleh proyek pemerintah.
namun demikian keberadaan calo sangat dibutuhkan dalam beberapa hal, misalnya dalam dunia perdagangan, sewa menyewa, dan mencari jodoh, Tanpa adanya calo atau perantara terkadang konsumen merasa kesulitan mencari kebutuhan barang atau memasarkan barangnya. Apalagi mencari pasangan hidup. yang namanya calo jodoh alias mak comblang sering dibutuhkan untuk menolong orang yang kesulitan mencari pasangan.

Era reformasi sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun Sekalipun demikian profesi percaloan masih menduduki posisi papan atas dari daftar profesi yang menjanjikan masa depan. maka bukan rahasia umum bila ada seorang pejabat publik sekaligus merangkap sebagai calo dari pelayanan yang dilayaninya itulah yang menyebabkan sistim birokrasi yang panjang dan biaya tinggi.

Seorang calo di satu sisi dibenci namun di sisi lain sangat dicari. masyarakat kita yang bosan dengan jalur birokrasi yang rumit lebih memilih jasa seorang calo, begitu juga seorang oknum pegawai pelayanan masyarakat lebih leluasa menetapkan tarif pungli (pungutan liar) melalui calo dari pada menetapkan tarif siluman secara langsung kepada masyarakat. Karena saat ini sedang galak galaknya KPK menjaring oknum pelayan masyarakat yang korupsi (pungli).
Cobalah anda mengurus surat nikah, perizinan dan lain lain yang bersifat birokrasi maka anda akan dikenakan biaya yang jauh dari ketentuan yang ditetapkan.
Yang lebih mengejutkan ada sebuah motto "kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah." artinya mental (oknum)pegawai pelayan masyarakat di negara ini sudah mengalami penyakit kronis dan komplikasi. Mereka (oknum pelayan masyarakat) itu senang bila orang lain susah karena disanalah keuntungan berlimpah. Barangkali mereka salah mengartikan falsafah "di balik kesulitan ada kemudahan". Mereka memahami dibalik penderitaan orang ada keuntungan. (astaghbillah, nauzubillah). Semoga kita bukan termasuk bagian dari mereka. Dari pada jadi calo yang menari di atas air mata orang lain lebih baik menjadi calo(n) mantu anak tukang calo, siapa tahu bisa belajar jadi calo yang baik. (ngerti ora son....)

Tidak ada komentar: