bila anda pernah mendengar lagu "HOUSE FOR SALE" (Rumah dijual) yang di nyanyikan oleh penyanyi margareth lucifer. Hati anda akan merasakan betapa sedihnya seseorang yang terpaksa menjual rumahnya karena kebutuhan yang tak bisa ditunda, padahal rumah adalah pakaian kita, tempat kita mengungkapkan perasaan dan pikiran. Rumah bagaikan seorang ibu tempat mengadu, mendekap disaat duka dan nestapa. Berjuta kenangan tertulis dinding sepi, tertanam di halaman, kamar tidur, dan ruang tamu berhias jarum jam yang selalu berputar.
Rumah merupakan satu prestise hidup manusia, mereka yang tinggal di kawasan menteng, kebayoran, dan kemang misalnya biasanya disebut golongan elite dalam arti kehidupan yang sudah makmur secara materi, sementara mereka yang tinggal di kawasan tambora, jembatan lima, jembatan besi, dan kampung melayu misalnya biasanya juga disebut golongan elite dalam arti ekonomi sulit.
Selain rumah adalah prestise, lifestyl (gaya hidup) rumah merupakan sumber mencari rejeki, bila lokasinya di kawasan ekonimis seperti dekat pasar, stasiun, kampus, dan rumah sakit karena kawasan tersebut adalah lokasi publik yang startegis untuk menjalankan usaha.
hampir seluruh kawasan di jakarta adalah kawasan ekonimis karena jakarta adalah kota pelayanan, kota bisnis dan kota wisata. Oleh karena itu nilai jual rumah dan tanah di jakarta, terutama jakarta pusat sangat tinggi. jangankan untuk kawasan elit sekitar jakarta pusat seperti menteng, . Kawasan yang padat penduduknya seperti kalipasir, cikini, kramat kwitang nilai jual tanah sudah mencapai 2,5 juta per meter persegi, oleh karena itu mencari rumah dengan harga Rp.100 juta - 150 juta di kawasan tersebut sudah langka. Padahal pada tahun 2007 harga rumah di kawasan tersebut dengan luas 3 x 5 meter masih sekitar 70 juta sampai dengan 100 juta dengan kondisi 40 - 60 persen. Tetapi saat ini rumah dengan kondisi 20 persen pun dihargai di atas 100 juta lebih. Sementara di kawasan kwitang sampai saat ini masih ada rumah dengan kondisi 80 persen dengan luas sekita 5 X 7 dengan harga di bawah Rp. 100 juta. Apa pasalnya. Ternyata sejak terjadinya banjir besar yang merendam jakarta daerah yang terendam banjir harga tanahnya merosot sementara daerah yang tidak terkena banjir banyak dicari maka harga tanah dan rumah melonjak secara signifikan. banyak penduduk yang menjual rumahnya untuk pindah ke daerah sekitar bodetabek dengan menjual rumahnya yang terendam banjir.
oleh karena itu sudah menjadi kebiasaan setiap akan datang hari besar imlek warga jakarta yang sudah menjadi anggota tetap pelanggan banjir sudah siap ngungsi dan kerja bakti. Sementara warga tionghoa mengucapkan gong xi fat chai, warga yang kena banjir mengucapkan ngung xi yu' coy.
MITOS MAKAM MBAH PRIOK
16 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar